Membaca narasi ini seolah-olah kita Yuyun serta korban jadi kebiadaban 14 pemuda. Seolah merasakan peristiwa 'mengerikan' yang dialami Yuyun.
Cerita itu diunggah oleh akun dengan nama Eko Kuntadhi pada Selasa (3/5/2016) malam.
Si pengunggah, Eko mengaku ia tidaklah yang menulis cerita ini, ia mengatakan terima kasih pada beberapa nama yang sudah memberikan salinan tulisan ini serta diunggah di dinding Facebooknya.
Belum di ketahui siapa yang menulis cerita kejadian tragis Yuyun ini namun hingga berita ini di turunkan, Rabu (4/5/2016) telah ada 3. 9 ribu yang memberikan tanggapan dengan emoticon, 2, 8 ribu komentar serta 3, 779 account membagikan cerita ini.
Membaca cerita ini ditanggung susah untuk menahan air mata yang menetes.
Sediakan tisu lantaran Anda seakan jadi sosol Yuyun.
Seseorang anak yang barusan pulang dari sekolah lantas alami peristiwa yang begitu mengerikan.
Membaca cerita ini tidak cuma seakan memikirkan jadi korban yang alami peristiwa tragis namun juga seakan dapat merasakan atmosfir menakutkan.
Merasakan ketakutan, rasakan sakit yang tidak terarah.
Beberapa besar netizen mengakui menangis sesudah membaca cerita ini serta mengharapkan kejadian ini tidak terulang.
Tersebut cerita yang disalin dari account Facebook Eko Kuntadhi.
NAMA SAYA YUYUN
Saya Yuyun, 14 tahun, siswi kelas 2 SMP 5 Satu Atap di Padang Ulak Tanding, Rejang Lebong, Bengkulu.
Tadi di sekolah ada kegiatan Pramuka, makanya saya memakai seragam cokelat.
Seragam Pramuka saya mungkin tak sebersih seragam kamu saat sekolah. Maklum saya gadis desa yang akrab dengan getah pohon serta debu.
Namun saya bangga menggenakannya.
Saya juga bangga jadi siswi, bersekolah bersama teman-teman.
Bagi saya belajar adalah bagian dari perjalanan saya untuk mengenal dunia.
Mencerucup ilmu dan pengetahuan yaitu bekal saya untuk hari esok.
Walau hidup di desa, di pelosok pulau Sumatera, saya juga punya harapan.
Saya juga punya harapan untuk hari esok. Sama seperti anak-anak lain.
Sama dengan putra dan putri bapak dan ibu.
Bukankah itu yang diajarkan, bahwa setiap anak harus menggantungkan cita-citanya setinggi langit?
Sore itu hawa panas saat saya melalui areal perkebunan sepulang sekolah. Hujan memanglah telah lama tidak turun.
Walau sedikit haus, namun saya harus cepat pulang.
Seperti biasa, saya cuma berjalan kaki, Menusuri tanah desa kami.
Saya ingin cepat sampai di rumah, melepaskan lelah setelah berjalan cukup jauh, serta berkumpul bersama keluarga.
Saya memang tak pernah diantar-jemput ke sekolah.
Di desa kami, yang jauh dari keriuhan kota, berjalan kaki adalah kebiasaan.
Adakah yang lebih indah bagi kami, selain menusuri jalan-jalan kecil desa?
Nikmati sepinya suasana sambil bernyanyi kecil.
Memikirkan sendau gurau teman-teman di sekolah tadi pagi.
Di sebuah tikungan, di areal yang sepi saya berjumpa beberapa teman lelaki.
Mereka menghampiri saya. Saya kenal salah satunya. Dia adalah kakak kelas.
Mereka mengajak saya bergabung duduk di sana, namun saya menolak. Saya ingin cepat pulang. S
aya juga tak sukai dengan bau mulut mereka.
Bau arak menguap, seperti kecoa yang keluar dari got. Juga biji mata yang semerah saga.
Namun mereka tidak suka ditolak. Satu orang menarik tangan saya dengan kasar.
Saya menepisnya. Tiba-tiba dari belakang, seorang yang lain menyergap.
Membekap mulut saya, menghalangi suara teriakan. Saya hampir kehabisan nafas.
Salah satu dari mereka memukul dengan keras. Saya terhuyung.
Pandangan menjadi gelap. Yang lain membawa tali, mengikat tangan saya. Sembari terus meronta, saya berusaha melepaskan diri.
Tapi tenaga mereka seperti banteng. Ke 14 lelaki itu, yang sebagian juga mengenal saya, sudah memperlakukan saya seperti binatang.
Saya dibanting dengan keras ke tanah, disusupkan diantara pepohonan.
Mereka menarik seragam Pramuka saya. Robek, Rok cokelat tua dikoyak.
Saya menjerit, namun bekapan tangan mereka begitu kuat. Lalu dengan paksa mereka memperkosa saya.
Waktu itu, di tengah himpitan kebejatan, saya hanya bisa merintih. Mulut saya tak henti-hentinya memanggil ibu.
Saya berharap dia mendengar rintihan putrinya.
Ibu, inilah putri kecilmu. Dikangkangi gerombolan binatang dengan mulut bau arak dan nafsu luber di kepala.
Ibu inilah putrimu merintih menahan perih. Perih pada tubuhku. Pedih pada jiwaku. Mereka menyiksaku.
Merusak kehormatanku beramai-ramai.
Memukuli tubuhku dengan tangan dan kayu. Ibu inilah putri yang engkau lahirkan, yang engkau rawat dan sekolahkan.
Diperlakukan dengan bengis, disusupkan diantara ilalang, diikat seperti binatang. Ibu ini Yuyun.
Yuyun sendirian menghadapi kebuasan iblis yang menjelma manusia. Ibu...
Tapi mereka terus menyerang kewanitaanku. 14 orang secara bergantian.
Saya rasa sekeji-kejinya binatang tidak ada yang memperlakukan mahluk seperti itu. Hanya rasa perih yang terasa,
Setiap saat semakin perih. Saya menjerit.
Tapi suara sudah habis. Jeritan saya disusul pukulan kayu ke kepala. Semuanya gelap.
Dalam gelap saya terbayang wajah sedih ibu. Air matanya meleleh. Melintas kemurungan di wajah bapak.
Urat mukanya tegang. Saya ingin memeluknya. Ingin mengadu pada mereka. Namun suasana semakin gelap.
Saya tidak lagi terasa sakit. Setelah puncak rasa sakit, yang ada hanyalah kekosongan.
Tubuh saya ringsek. Seragam Pramuka yang hanya satu-satunya itu terkoyak. Kasian ibu, dia harus membelikan seragam Pramuka yang baru.
Maafkan saya, ibu. Kebengisan ini telah merusak seragam Pramukaku.
Maafkan aku bapak, pukulan kayu di kepalaku telah memisahkan kita untuk selamanya.
Nama saya Yuyun. Siswi kelas 2 SMP 5 Satu Atap, Padang Ulak Tanding, Rejang Lebang, Bengkulu.
Saya juga punya harapan, sama seperti anak bapak dan ibu.
Kini harapan itu tanggal. Saya hanya tinggal jasad, menggenakan seragam Pramuka yag koyak, ditemukan terikat di dasar jurang.
*) Terimakasih pada Rahmat Alam, Pebby Magdalena, Sebastian Lukito, Salma Indria Rahman Yohana Leo serta teman-teman lain yang memberikan copy tulisan ini lagi
Komentar netizen
Beberapa besar berikan respon dengan emoticon menangis.
Ada pula yang mengakui tidak dapat menahan airmata membaca cerita ini.
Suci Imuet : Surga menunggu mu yuyun.. allah bakal membalas smua perbutan binatang yg biadap it lewat cara nya sendiri
Elfira Regina Nazyra : Sunggu kejam..
Yhunie OS Bengkulu : Mudah-mudahan tenang disisi ny yun.
Siskania Mdf : Sampek nangis bacanya... gak dapat ngomong.
Ainn Arios : Ya Allah sy tidak kuat menahan tangis membaca goresan ini.... smg yuyun diletakkan disurganya allah...
Maretha Fransisca : Ya Allah... nangis!! saya jg wanita. miliki anak gadis. tlg berikanlah keadilanMU ya Allah.
Elsarina Tarigan : Im on your side..
Tisya A Damayanti : Perih sekali hati ini mmbacanya.... R. I. P YUYUN mudah-mudahan tenang disisi tuhan ya nak..... Diletakkan di tempat yang paling mulia disisi Tuhan.
Belasan pelaku ditangkap
Berita terlebih dulu seperti diambil dari Kompas. com, Kepolisian Resor Rejang Lebong, Bengkulu, membekuk 12 remaja pelaku pemerkosaan pada YN (14), seseorang siswi SMP berprestasi di Kecamatan Padang Ulak Tanding, Kabupaten Rejang Lebong.
Kepala Polres Rejang Lebong Ajun Komisaris Besar Polisi Dirmanto menyampaikan, 12 pelaku itu mencakup berinisial De (19), To (19), serta Da (17). Ketiga warga Desa Kasie Kasubun, Padang Ulak Tanding, itu di tangkap pada Jumat (9/4/2016).
Dari pengembangan masalah itu, pada keesokan harinya, Sabtu (10/4/2016), giliran Su (19), Bo (20), Fa (19), Za (23), Fe (18), Al (17), Su (16), dan Er (16), semua warga Kasie Kasubun, ikut diringkus polisi.
Polisi awalannya meringkus tiga pelaku.
Dari ketiga pelakulah di ketahui ada belasan remaja yang lain yang ikut serta.
" Korban dalam perjalanan pulang ke rumah, dari sekolah. Waktu itu beberapa pelaku tengah berkumpul, lalu mereka mengikat korban dan memerkosanya, " kata Dirmanto.
Aksi beberapa pelaku itu bikin korban meninggal dunia.
Seorang pelaku mengakui kalau semuanya mendapat giliran memerkosa korban.
" Sekarang ini masihlah ada dua pelaku lain yang dalam pengejaran, " kata Dirmanto.
Pura-pura ikut mencari korban
Sebagian pelaku yang sedesa dengan korban juga turut melakukan pencarian.
Dirmanto menambahkan, para pelaku berpesta miras sebelum memerkosa serta membunuh korban.
" Mereka beli tuak sesudah mengumpulkan uang Rp 40. 000 serta beli tuak di Belumai II, " kata Dirmanto dalam konferensi pers, belum lama ini.
Waktu para pemuda itu pesta tuak, Yn secara kebetulan lewat usai pulang dari sekolah.
" Peristiwa pada jam 13. 00 serta 13. 30 WIB. Korban diikat dengan tali terlebih dulu sebelumnya pada akhirnya diperkosa bergiliran, " kata Kapolres.
Beberapa pelaku adalah warga yang tinggal satu desa dengan korban. Bahkan juga, sebagian pelaku turut mencari jenazah korban.
Atas perkara ini, Bupati Rejang Lebong, Hujazi, mengakui bakal keluarkan kebijakan pengetatan peredaran minuman tuak di wilayahnya. (*)
0 Response to " Ibu Ini YUYUN ,YUYUN Yang Sendirian Menghadapi Kebebuasan iblis yang menjelma manusia!!! Viral dan Bikin Nangis! Membaca Ini Seolah Rasakan Peristiwa 'Mengerikan' yang Dialami Yuyun???"
Posting Komentar